BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Iman dan Konsep Iman
Secara etimologi, kata “al-iman” berasal dari kata “
aamana-yu’minu-iimaanan, fahuwa mu’minun” artinya percaya.[1]Percaya
adalah suatu pengakuan atau keyakinan seseorang terhadap sesuatu.Para pakar
bahasa dan ulama sepakat bahwa makna al-iman adalah at-tashdiq ‘membenarkan’.[2]
Menurut Hassan Hanafi (I. 1935 M ) setidaknya ada 4 istilah kunci yang
digunakan oleh para teolog muslim dalam membicarakan konsep iman, yaitu :
1.
Ma’rifah bi
al-aql, mengetahui dengan akal.
2.
Amal, perbuatan baik atau patuh.
3.
Iqrar, pengakuan secara lisan.
Konsep iman adalah keseluruhan pemikiran tentang iman.
Konsep iman yang dikemukakan oleh aliran-aliran dalam ilmu kalam tidak sama
karena dipengaruhi oleh teori mengenai kekuatan akal dan fungsi wahyu.
Seperti :
1.
Assy’ariah,
iman itu al-tashdiq bi Allah, membenarkan kabar tentang adanya Allah.
Selanjutnya, ia mengatakan, imaan adalah pengakuan dalam hati tentang keesaan
Tuhan dan kebenaran para Rasul serta segala
apa yang mereka bawa dari Allah SWT.
2.
Al-Baghdadi
juga memberikan batasan iman yang hampir sama denganAssy’ariah, iman adalah tashdiq
(membenarkan) tentang adanya Tuhan,
para Rasul, dan berita-berita yang mereka bawa.
3.
Al-Jubba’i yang
dimaksud dengan iman adalah hanyalah perintah yang bersifat wajib.
4.
Al-Najm yang
beranggapan bahwa iman itu menjauhi dosa-dosa besar.
5.
Al-Bazdawi,
iman adalah kepercayaan dalam hati yang dinyatakan dengan lisan bahwa tidak ada
Tuhan selain Dia dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. [4]
B.
Karakteristik
Iman
1.Pengertian Karakteristik Iman
a. Iman Bertambah dan Berkurang
Seperti
terbaca di atas, iman dalam pemahaman generasi salaf menjadikan tiga dimensi iman
menjadi satu kesatuan yang utuh, tidak boleh dipisah-pisahkan. Di sini dapat dipahami
bahwa ‘amal (perbuatan hati dan organ tubuh) menjadi bagian tak terpisahkan dari
pemaknaan iman itu sendiri. Oleh karena itulah, imanakan bertambah dan berkurang
seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal;
bertambahdenganketaatandanberkurangdenganmaksiat.
Konsep fluktuasi atau naik-turunnya iman dapat kita cermati pada surat
Al-Anfal 2-4 berikut :
{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ
اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ
إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ
دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ}
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman ialah mereka
yang bila disebut nama Allah gemetar lah hati mereka,
dan apabil adibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan
yang menafkahkan sebagian dari rezki
yang kami berikan kepada mereka.
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian
di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki
(nikmat) yang mulia.” (Al-Anfal :2-4).
Demikian pula hadis-hadisNabi SAW di bawah ini :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْإِيمَانُ بِضْعٌوَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ
وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا
إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
Dari sahabat Abu Hurairah RA,
Rasulullah SAW bersabda :“Iman itu terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih;
yang paling utama ialah perkataan
‘tiada tuhan yang berhak disembah kecuali
Allah SWT’ dan yang terendah ialah menyingkirkan rintangan atau kotoran dari jalan,
sedang rasa malu itu juga merupakan salah satu cabang iman.”
(H.R Muslim)
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا
فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Dari sahabat AbuSa’id
al-Khudry RA, Rasulullah SAW bersabda:”Barang siapa
di antara kalian melihat kemunkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya,
jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu juga maka dengan hatinya,
dan yang demikian itu ialah selemah-lemahnya iman.”
(H.R Muslim)
b. Kualitas keimanan seseorang berbeda-beda.
Memiliki tingkatan-tingkatan sebagaimana
pula kekafiran. Puncak tertinggi keimanan adalah ketaqwaan
yang dilandasi oleh mahabbah
(kecintaan) yang tinggi pada
Allah. Para
ulama mendefinisikan taqwa dengan“Hendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam larangan-larangan-Nya
dan tidak kehilangan kamu dalam perintah-perintah-Nya”.Sebagian ulama mendefinisikan taqwa dengan mencegah diri
dari azab Allah dengan membuat amal saleh dan takut kepada-Nya di kala sepi atau
terang-terangan. Sayyid Qutb berkata dalam“Fi Zhilalil Qur’an”bahwa taqwa adalah kepekaan batin, kelembutan perasaan,
rasa takut terus-menerus selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan.
Jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan
angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, harapan semuata ssegala sesuatu yang
tidak bisa diharapkan, ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak panta suntuk ditakuti
dan masih banyak duri-durilainnya. Taqwa terbentuk dari suatu proses pengabdian
(ibadah) yang intens [2:21, 2:183]. Taqwa merupakan suatu fase kematangan yang
sempurna, sebagai hasil interaksi antara iman, Islam dan ikhsan. Taqwa adalah ilmu
dan amal, naluri, hati dan etika. Dengan taqwa, hati menjadi terkondisi untuk selalu
berdzikir pada Allah dan anggota-anggota badan berinteraksi secara seimbang dan
harmonis. Ketaqwaanhanya Allah anugrahkan kepada orang-orang yang berserah diri,
beramal dan berbuat baik [47:17] dalam bentuk petunjuk. Sedangkan petunjuk berpangkal
dari keimanan kepada Allah SWT [64:11].[5]
C.
Tingkatan Iman
Iman itu memiliki
rasa, manis, dan hakikat :
1. Adapun rasanya iman, maka Nabi Muhammad SAW.
Menjelaskan dengan sabda-Nya: “ Yang merasakan nikmatnya iman adalah orang yang
ridha kepada Allah SWT, sebagai Rabb ( Tuhan ), islam sebagai agama, dan
Muhammad SAW, sebagai rasul.” (H.R.Muslim)
2.
Adapun
manisnya iman, maka Nabi Muhammad SAW. Menjelaskan dengan sabdanya: “Ada tiga
perkara, barangsiapa yang ada padanya, niscaya dia merasakan nikmatnya iman:
bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari apapun selain keduanya,
dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah SWT. Dan dia benci kembali
kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api neraka.”
(Muttafaqun ‘alaih.)
3. Adapun hakikat iman, maka bisa didapatkan oleh
orang yang memiliki hakikat agama. Berdiri tegak memperjuangkan agama. Berdiri
tegak memperjuangkan agama, dalam ibadah dan dakwah, berhijrah dan menolong,
berjihad dan berinfak.[6]
D.
Relasi Iman dan
Amal
Iman sangat terkait erat dengan amal shalih,
bersinggungan satu sama lain dan seakan-akannya nyaris tanpa beda atau secara substansial sama.
Suatu contoh bukti adalah bahwa kedua-duanya dalam
al-Qur’an sama-sama secara eksplisit dicirikan dengan
“shalat” dan “zakat”. Akan tetapi, keterkaitan iman dan amal shalih dalam sejarah penafsiran umat
Islam diinterpretasikan dalam dua cara berbeda
yang bahkan secara diametric berlawanan.
Pertama,
keduanya dipandang sebagai tidak dapat dipisahkan sehingga yakin
(iman) tidak dapat dikonsepkan tanpa amal perbuatan baik. Ringkasnya,
yakin tidak sempurna tanpa amal perbuatan baik.
Kedua,
keduanya dilihat layaknya dua
“entitas” yang berbeda. Yakin dianggap independen dan secara esensial tidak butuh unsure lain untuk menjadi sempurna.
Demikian sebaliknya, amal perbuatan baik adalah sesuatu
yang berbeda dan tidak menjadi pelengkap dari keyakinan
(iman).
والعصر. إن الإنسان لفي خسر. إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا
بالحق وتواصوا بالصبر. [العصر: 3-1]
Demi masa. Sesungguhnya
manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal shalih dan saling menasihati tentang kebenaran serta saling menasihati
tentang kesabaran. [al-`Ashr: 1-3]
Manusia
yang tidak merugi hanyalah mereka yang: 1) beriman, 2) mengerjakan amal shalih,
3) saling menasihati dalam kebenaran, dan 4) saling menasihati dalam kesabaran.iman
dan amal shalih adalah sesuatu yang saling melengkapi, meski keduanya adalah hal
yang bisa dipisahkan. Kita tidak cukup hanya beriman tanpa beramal shalih,
demikian pula sebaliknya.Dalam al-Qur’an sendiri, rangkaian iman dan amal shalih
seolah menjadi “kesatuan” sehingga orang-orang yang beriman dan beramal shalih adalah
lawan dari orang-orang yang enggan dan menyombongkandiri.
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ
خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh,
mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”
(Q.S. Al Bayyinah: 7).
Penggan dengan kosa iman dan
kata amal saleh sudah pasti mengandung Pengertian amat dalam. Bahwa iman tidak dapat dipisah dari
perilaku amal shaleh.Orang-orang yang sungguh beriman akan selalu mengerjakan amal
shaleh, dan selanjutnya amal saleh akan lahir denganmu dah karena adanya iman.
Dalam beberapa hadis Rasulullah
SAW menerangkan amal saleh dari orang yang beriman di antaranya :
1.
“Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
maka hendaklah ia menghormati tamunya”.
(H. R.
Muslim)
2.
“Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya
(HR. Bukharidan Muslim)
3.
“Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
maka hendaklah ia berkata
yang baik-baik atau diam (HR. Bukharidan Muslim)
Ketiga peringatan Rasulullah
SAW ini mengungkapkan bahwa tanpa amal shaleh,
iman seseorang tidak sempurna.Iman tidak hanya ucapan lisan saja,
akan tetapi mesti diyakini dalam hati,
serta diwujudkan dengan perbuatan amal shaleh.
Iman adalah landasan pertama dari amal shaleh.Baik itu menyangkut amal saleh
yang bentuknya ibadah mahdhahatauhablunminallah, seperti shalat,
puasa dan haji.
Begitu pula amal shaleh yang menyangkut mu‘amalah sesama manusia
atau hablunminannas, seperti kepedulian sosial, menyantuni anak yatim dan fakir
miskin, suka menolong, mengayomi masyarakat dan sebagainya. Kedua bentuk ibadah
ini lahir semata karena iman kepada Allah SWT.
Amal saleh merupakan buah alami bagiimana, akan yang didorong oleh adanya hakika timan
yang mantap di dalam hati.Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis,
yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri
di luar dalam bentuk amal saleh.[7]
BAB III
Penutup
Kesimpulan
A.
Dapat disimpulkan
bahwa definisi iman suatu pengakuan atau keyakinan seseorang terhadap sesuatu.
B.
Karakteristik
iman
1.
Iman bertambah
dan berkurang.
2.
Kualitas
keimanan berbeda-beda
C.
Adapun tingkatan
iman ada 3 yaitu :
1.
Rasanya iman
2.
Manisnya iman
3.
Hakikatnya iman
D. Relasi iman dan amal
Iman sangat terkait erat dengan amal,
bersinggungan satu sama lain dan seakan akan nyaris tanpa beda atau secara
subtansian sama.
Pertama, keduanya dipandang sebagai tidak
dapat dipisahkan sehingga iman tiddak dapat dikonsepkan tanpa amal perbuat baik.
Kedua, keduanya dilihat layaknya dua etitas
yang berbeda.
Daftar pustaka
A. BUKU
1.
Abdul Rozak dan Rosihon Anwar. Ilmu Kalam. Pustaka Setia. Bandung :
2012.
2.
Ahmad, Syekh. Aku Ridha Allah Tuhanku, Jogjakarta : Mumtaz, 2012.
3.
Habanakah, Abdul Rohman. Pokok-Pokok Akidah Islam . Jakarta: Gema Insani, 1998 .
4.
Prahara, Rewin Yudi. Materi Pendidikan Agama Islam. Ponorogo : STAIN Po PRESS 2009.
5.
Rahman, Taufik, Tauhid Ilmu Kalam.
Bandung : Pustaka Setia, 2013.
B. INTERNET
1.
Ahmad Syahril, Karakteristik
Iman, https.//iqbalyamani.wordpress.com/2013/03/26/karakteristik-iman-part-1/diakses
26-9-17.
2.
Linda
Puspitasari, Kaitan Iman dan Amal Sholeh,
[1]Taufik
Rahman, Tauhid Ilmu Kalam, (Bandung:
Cv Pustaka Setia, 2013), 29
[2]Abdurrahman
Habanakah, Pokok Pokok Akidah Islam,
(Jakarta: Gema Insani, 1998), 77
[4]Errwin Yudi Praha, Materi Pendidikan Agama Islam,
(Ponorogo: STAIN Po Press, 2009), 159-162
[5]Ahmad
Syahril, Karakteristik Iman, https.//iqbalyamani.wordpress.com/2013/03/26/karakteristik-iman-part-1/diakses
26-9-17
[6]Syekh
Ahmad Ibn ‘Abd Al-Rahman, Aku Ridha Allah
Tuhanku, (Yogyakarta: Mumtaz, 2012),37
Komentar
Posting Komentar