BAB
II
PEMBAHASAN
A. Strategi Politik, Pemerintah,
Perkembangan Peradaban, Dan Penyebab Kehancuran Kerajaan Turki Ustmani
Diantara ketiga kerajaan besar (Kerajaan Safawi,
Kerajaan Mughal, dan Kerajaan Ustmani), Kerajaan Ustmanilah yang menjadi
kerajaan yang paling besar dan lama, sekitar enam setengah abad. Wilayah kekuasanya
juga paling luas. Ketika semua kerajaan Islam yang besar telah mengalami
kehancuran oleh politik kaum penjajah Barat, maka Ustmani masih tetap bertahan
hingga 1924 M. Ia jatuh dan digantikan oleh sistem republik dengan dibatasi
wilayahnya seperti yang sekarang.
Bangsa Turki mempunyai dua dinasti yang berhasil
mengukir sejarah dunia. Pertama, Dinasti
Saljuk, dan kedua Dinasti Turki Ustmani. Tentang Turki Saljuk telah dijelaskan
bahwa kehancuran Dinasti ini disebabkan oleh serangan pasukan Mongol yang
merupakan momen terbentuknya Dinasti Ustmani.
Utsmani semula adalah keluarga suku kecil Ughu yang
kemudian bergabung dengan Turki Saljuk karena tekanan tentara Mongol. Tetapi
setelah Etorgrul pemimpin mereka wafat (1280 M), puteranya yang bernama Usmani menggantikannya
sebagai pemimpin suatu wilayah pemberian Turki Saljuk yang merdeka. Sedangkan
Dinasti Saljuk yang menghantarkannya hancur oleh serangan tentara Mongol.
Karena kekuatan militernya, Usmani dijadikan benteng pertahanan terdepan bagi
dinasti-dinasti kecil dari ancaman serangan Mongol. Secara tidak langsung
mereka telah mengaku Usman sebagai penguasa tertinggi dengan gelar Padinsyah
Ali Usman.[1]
Selanjutnya, kekuasaan Usmani secara resmi di pegang
oleh khalifah-khalifah yang banyak jumlahnya, dimulai dari pendirinya Usman Bin
Ertogrul (1281-1324 M), disusul oleh khalifah-khalifah besar seperti Muhammad
II Fatih dan Mahmud II, sampai dengan khalifah terakhir Abdul Majid II
(1922-1924 M).[2]
1. Strategi Politik Kerajaan Turki Ustmani
Setelah
Usman I mengumumkan dirinya sebagai Paradisyah Al-Usman (raja besar keluarga
Usman), setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Pertama dia
menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan Broessa pada tahun 1317.
Pada masa Orkhan dapat ditaklukkan wilayah Azmir, Tawasyanli, Uskandar, Ankara,
dan Gallipoli.
Setelah
itu dilanjutkan Murad I, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa dan dapat
menaklukkan Adrianopel yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan yang baru,
Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Pengganti
Murad I dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa. Peristiwa ini
merupakan catatan sejarah yang amat gemilang bagi umat.
Islam
pada masa Sultan Muhammad al-Fatih dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukkan
Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat kerajaan Bizantium, lebih
mudahlah arus ekspansi Turki Utsmani ke benua Eropa. Ketika Sultan Salim I naik
tahta, ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menaklukkan Persia,
Syiria, dan dinasti Mamalik di Mesir, usaha ini kemudian dilanjutkan oleh
Sultan Sulaiman al-Qanuni. Ia berhasil menundukkan Irak, Belgrado, Pulau
Rodhes, Tunius, Budapest, dan Yaman.[3]
Lima faktor yang
menyebabkan kesuksesan Dinasti Utsman dalam perluasan wilayah Islam diantaranya
:
a. Kemampuan orang-orang Turki dalam
strategi perang terkombinasi dengan cita-cita memperoleh ghonimah (harta
rampasan perang).
b. Sifat dan karakter orang Turki yang
selalu ingin maju dan tidak pernah diam.
c. Semangat jihad dan ingin mengembangkan
Islam.
d. Letak Istanbul yang sangat strategis
sebagai ibu kota kerajaan juga sangat menunjang kesuksesan perluasan wilayah ke
Eropa dan Asia.
e. Kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya
yang kacau memudahkan Dinasti Utsmani mengalahkannya.[4]
2. Pemerintahan Masa Kerajaan Turki Ustmani
Kerajaan
Turki Utsmani merupakan kerajaan yang menganut sistem pemerintahan monarki atau
turun menurun. Raja-raja dinasti Utsmani bergelar Sultan dan Khalifah
sekaligus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi dan Khalifah di bidang Keagamaan.
Dalam memperoleh kekuasaaan tidak selalu diwariskan kepada anak tertua, tetapi
juga kepada anak yang lain yang berhak, jika tidak ada maka saudara sang raja
yang menggantikannya.
Seorang
Sultan juga dibantu oleh seorang Mufti dalam menjalankan pemerintahan, atau
yang lebih dikenal dengan Syaikhul-Islam dan Syaikul-A’dham. Syaikhul-Islam
mewakili di bidang Agama, sedang Syaikhul-A’dham di bidang duniawi.[5]
Selama
masa kesultanan Turki Utsmani (1299-1942 M), sekitar 625 tahun berkuasa tidak
kurang dari 40 Sultan. Dalam hal ini, Syafiq A. Mughni membagi sejarah
kekuasaan Turki Utsmani menjadi lima periode, yaitu :
a.
Periode
pertama (1299-1402), yang dimulai dari berdirinya kerajaan, ekspansi pertama
sampai kehancuran sementara oleh serangan timur yaitu dari pemerintahan Utsman
I sampai pemerintahan Bayazid.
b.
Periode
kedua (1402-1566), ditandai dengan restorasi kerajaan dan cepatnya pertumbuhan
sampai ekspansinya yang terbesar. Dari masa Muhammad I sampai Sulaiman I.
c.
Periode
ketiga (1566-1699), periode ini ditandai dengan kemampuan Usmani untuk
mempertahankan wilayahnya. Sampai lepasnya Hongaria. Namun kemunduran segera
terjadi dari masa pemerintahan Salim II sampai Mustafa II.
d.
Periode
keempat (1699-1838), periode ini ditandai dengan berangsur-angsur surutnya
kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah yang di tangan para penguasa wilayah,
dari masa pemerintahan Ahmad III sampai Mahmud II.
e.
Periode
kelima (1838-1922), periode ini ditandai dengan kebangkitan kultural dan
administrasi dari negara di bawah pengaruh ide-ide barat, dan masa pemerintahan
Sultan A. Majid I sampai A. Majid II. [6]
3. Perkembangan Peradaban Kerajaan Turki
Ustmani
a. Bidang
Pemerintahan Dan Militer
Para
pemimpin kerajaan Utsmani pada masa-masa pertama adalah orang-orang yang kuat,
sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun
demikian, kemajuan kerajaan Utsmani sehingga mencapai masa keemasannya bukan
hanya karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor lain yang
mendukung keberhasilan ekspansi itu. Yang terpenting diantaranya adalah
keberanian, keterampilan, ketangguhan dan kekuatan militernya yang sanggup
bertempur kapan dan dimana saja.[7]
Untuk
pertama kali, kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan
teratur ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa. Ketika itu, pasukan tempur
yang besar sudah terorganisasi. Pengorganisasian yang baik, taktik dan strategi
tempur militer Utsmani berlangsung tanpa halangan berarti. Namun tak lama
setelah kemenangan tercapai, kekuatan militer yang ini dilanda kekisruhan.
Kesadaran prajuritnya menurun. Mereka merasa dirinya sebagai pemimpin-pemimpin
yang berhak menerima gaji. Akan tetapi keadaan tersebut segera dapat diatasi
oleh Orkhan dengan jalan mengadakan perombakan besar-besaran dalam kemiliteran.
Pembaharuan
dalam tubuh organisasi militer oleh Orkhan, tidak hanya dalam bentuk mutasi
personil-personil pimpinan, tetapi juga diadakan perombakan dalam keanggotaan.
Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen
yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan
prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer
baru yang disebut pasukan Jenissery atau Inkisariyah. Pasukan
inilah yang dapat mengubah Dinasti Utsmani menjadi mesin perang yang
paling kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukan
negeri-negeri non-muslim.[8]
Disamping Jenissery,
ada lagi prajurit dari tentara feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat.
Pasukan ini disebut tentara atau kelompok militer Thaujiah. Angkatan
laut pun dibenahi, karena ia memiliki peranan yang besar dalam perjalanan
ekspansi Turki Utsmani. Pada abad ke-16, angkatan laut Turki Utsmani yang
tangguh mencapai puncak kejayaannya. Kekuatan militer Utmani yang tangguh itu
dengan cepat dapat menguasai wilayah yang sangat luas, baik di Asia, Afrika,
maupun Eropa. Faktor utama yang mendorong kemajuan dilapangan militer ini
adalah tabiat bangsa Turki itu sendiri yang bersifat militer, disiplin dan
patuh pada peraturan. Tabiat ini merupakan tabiat alami yang mereka warisi dari
nenek moyang mereka di Asia Tengah.[9]
Keberhasilan
ekspansi tersebut dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang
teratur. Dalam mengelola pemerintahan yang luas, sultan-sultan Turki Utsmani
senantiasa bertindak tegas. Dalam struktur pemerintahan, Sultan sebagai
penguasa tertinggi, dibantu oleh Shadr al-A‘zham (perdana menteri) yang
membawahi Pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat I.
Dibawahnya terdapat beberapa orang al-Zanaziq atau al-Alawiyah (bupati).
Untuk
mengatur urusan pemerintahan negara, di masa Sultan Sulaiman I disusun sebuah
kitab undang-undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa
al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Utsmani sampai
datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan Sulaiman I yang amat
berharga ini, di ujung namanya ditambah dengan gelar Sultan Sulaiman
al-Qanuniy.
b.
Bidang Intelektual Dan Ilmu Pengetahuan
Kemajuan
bidang intelektual diabad ke-19 pada masa pemerintahan Turki Utsmani tampaknya
tidak lebih menonjol dibandingakan bidang politik dan kemiliteran. Dari
aspek-aspek intelektual yang dicapai pada periode ini adalah sebagai berikut :
Terdapat
tiga buah surat kabar yang muncul pada masa ini, yaitu:
1) Berita
harian Takvini Veka (1831),
2) Jurnal Tasviri
Efkyar (1862),
3) Jurnal Terjumani
Ahval (1860).[10]
Terjadinya
transformasi pendidikan, dengan mendirikan sekolah-sekolah dasar dan menengah
(1861) dan perguran tinggi (1869), dan juga mendirikan fakultas kedokteran dan
fakultas hukum. Disamping itu juga mengirimkan para pelajar yang berprestasi ke
Prancis untuk melanjutkan studinya, dimana hal ini sebelumnya belum pernah
terjadi. Selain hal diatas, muncul juga sastrawan-sastrawan dengan hasil
karya-karyanya setelah menyelesaikan studi di luar negeri. Diantaranya adalah
Ibrahim Shinasi, pendiri surat kabat Tasviri Ekfyar. Diantara karya yang
dihasilkannya adalah The Poets Wedding (komedi). Salah seorang
pengikutnya adalah Namik Kemal dengan karyanya Fatherland atau Silistria. Disamping itu, ada juga
Ahmad Midhat dengan Entertaining Tales dan Mehmed Taufiq dengan Year
in Istambul.
c.
Bidang Kebudayaan
Kebudayaan
Turki Utsmani merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan, diantaranya adalah
kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak mengambil
ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Sedangkan
ajaran-ajaran tentang prinsip ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan, keilmuwan,
dan huruf mereka dari bangsa Arab.[11]
Sebagai
bangsa yang berdarah militer, Turki Utsmani lebih banyak memfokuskan kegiatan
mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan,
mereka kelihatan tidak begitu menonjol. Karena itulah, di dalam khazanah
intelektual Islam kita tidak menemukan ilmuwan terkemuka dari Turki Utsmani.
Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur
Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah, seperti Masjid Al-Muhammadi
atau Masjid Jami’ Sultan Muhammad Al-Fatih, Masjid Agung Sulaiman, dan Masjid
Abi Ayyub Al-Anshari. Masjid-masjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang
indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah
masjid yang asalnya gereja Aya Sofia. Hiasan kaligrafi itu dijadikan penutup
gambar-gambar Kristiani yang ada sebelumnya.
Pada masa
Sulaiman di kota-kota besar dan kota-kota lainnya banyak dibangun masjid,
sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, villa, dan
pemandian umum. Disebutkan bahwa 235 buah dari bangunan itu dibangun di bawah
koordinator Sinan, seorang arsitek asal Anatolia. [12]
d.
Bidang Keagamaan
Kehidupan
keagamaan merupakan bagian dari sistem sosial dan politik Turki Utsmani. Ulama
mempunyai kedudukan tinggi dalam kehidupan negara dan masyarakat. Mufti sebagai
pejabat tinggi agama, tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum kerajaan tidak
dapat berjalan. [13] Pada
masa ini, kehidupan tarekat berkembang pesat. Al-Bektasiy dan Al-Maulawiy
merupakan dua ajaran tarekat yang paling besar. Al-Bektasiy merupakan
tarekat yang sangat berpengaruh terhadap tentara Jenissari, sedangakan Al-Maulawiy
berpengaruh besar dikalangan penguasa sebagai imbangan dari kelompok Jenissariy
Bekktasiy.
Sementara itu, ilmu pengetahuan
seperti fikih, tafsir, kalam dan lain-lain, tidak mengalami perkembangan.
Kebanyakan penguasa Usmani cenderung bersikap taklid dan fanatik
terhadap suatu mazhab dan menentang mazhab-mazhab lainnya.
Terdapat
beberapa faktor yang mendorong kemajuan yang terjadi di masa dinasti Turki Utsmani,
diantaranya adalah:
1)
Adanya
sistem pemberian hadiah berupa tanah kepada tentara yang berjasa.
2)
Tidak adanya
diskriminasi dari pihak penguasa
3)
Kepengurusan
organisasi yang cakap.
4)
Pihak Turki
memberikan perlakuan baik terhadap saudara-saudara baru dan memberikan kepada
mereka hak rakyat secara penuh.
5)
Turki
Ustmani telah menggunakan tenaga-tenaga profesional dan terampil.
6)
Kedudukan
sosial orang-orang Turki telah menarik minat penduduk negeri-negeri Balkan
untuk memeluk agama Islam
7)
Rakyat
memeluk agama Kristen hanya dibebani biaya perlindungan (jizyah) yang relatife
murah dibandingkan pada masa Bizantium.
8)
Semua
penduduk memperoleh kebebasan untuk menjalankan kepercayaannya masing-masing.
9)
Karena Turki
tidak fanatik agama, wilayah-wilayah Turki menjadi tempat perlindungan
orang-orang Yahudi dari serangan kerajaan Kristen di Spanyol dan Portugal pada
abad ke-16.
4.
Penyebab
Kehancuran Kerajaan Turki Utsmani
Proses kemunduran hingga jatuhnya Ustmani
berlangsung sangat lama, yaitu selama tiga abad[14],
mulai berakhirnya masa Sulaiman II Al-Qanuni (1520 M) hingga masa kejatuhannya
(1924 M). Kemunduran tersebut ditandai dengan beberapa hal sebagai berikut :
a.
Melemahnya semangat prajurit Ustmani hingga
menyebabkan berbagai serangan yang dilancarkan untuk mempertahankan wilayah
dapat dipatahkan oleh lawan.
b.
Menyadari akan kelemahan-kelemahan Ustmani, mulailah
berbagai wilayah di timur mengadakan pemberontakan untuk melepaskan diri dari
kekhalifahan Ustmani.[15]
Banyak faktor yang menyebabkan Kerajaan Usmani itu
mengalami kemunduran, di antaranya adalah :
a.
Wilayah
Kekuasaan yang Sangat Luas
Administrasi pemerintahan bagi suatu
negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara
administrasi pemerintahan Kerajaan Turki Usmani tidak beres. Di pihak lain,
para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehingga
mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal ini tentu
mengurangi potensi yang seharusnya digunakan untuk membangun negara.
b.
Heterogenitas
Penduduk
Sebagai kerajaan besar, Turki
Utsmani menguasai wilayah yang amat luas, mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak,
Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libya, Tunis, dan Aljazair di Afrika;
dan Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa.
Untuk mengatur penduduk yang beragam dan tersebar di wilayah yang luas itu,
diperlukan suatu organisasi pemerintahan yang teratur. Perbedaan bangsa dan
agama acap kali melatarbelakangi terjadinya pemberontakan dan peperangan.
c.
Kelemahan
Para Penguasa
Sepeninggalan Sulaiman Al-Qanuni,
Kerajaan Turki Usmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam
kepribadian terutama dalam kepemimpinannya. Akibatnya, pemerintahan menjadi
kacau. Kekacauan itu tidak pernah dapat diatasi secara sempurna, bahkan semakin
lama menjadi semakin parah.[16]
d.
Budaya
Pungli
Pungli merupakan perbuatan yang
sudah umum terjadi dalam Kerajaan Usmani. Setiap jabatan yang hendak diraih
oleh seseorang harus “dibayar” dengan sogokan kepada orang yang berhak
memberikan jabatan tersebut. Berjangkitnya budaya pungli ini mengakibatkan
dekadensi moral kian merajalela yang membuat pejabat semakin rapuh.
e.
Merosotnya
Ekonomi
Akibat perang yang tidak pernah
berhenti, perekonomian negara merosot. Pendapatan berkurang, sementara belanja
negara sangat besar termasuk untuk biaya perang.[17]
B. Kemunduran Dunia Islam Setelah Turki
Utsmani
1. Renaisans Di Eropa
Pada awal kebangkitannya, Eropa menghadapi tantangan
yang sangat berat. Di hadapannya masih terdapat kekuatan-kekuatn perang Islam
yang sulit dikalahkan, terutama Kerajaan Usmani yang berpusat di Turki.[18]
Tidak ada jalan lain, mereka harus menembus lautan yang sebelumnya hanya
dipandang sebagai dinding yang membatasi gerak mereka. Mereka melakukan
berbagai penelitian tentang rahasia alam, berusaha menaklukkan lautan dan
menjelajahi benua yang sebelumnya masih diliputi kegelapan. Setelah Christoper
Colombus menemukan Benua Amerika (1492 M) dan Vasco da Garna menemukan jalan ke
Timur melalui Tanjung Harapan (1498 M) benua Amerika dan kepulauan Hindia
segera jatuh ke bawah kekuasaan Eropa. Dua penemuan itu, sungguh tak
terterkirakan nilainya, Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan, karena
tidak tergantung lagi kepada jalur lama yang dikuasai umat Islam.
Perekonomian bangsa-bangsa Eropa pun semakin maju
karena daerah-daerah baru terbuka baginya. Mereka dapat memperoleh kekayaan
yang tak terhingga untuk meningkatkan kesejahteraan negerinya. Tak lama setelah
itu, mulailah kemajuan Barat melampaui kemajuan Islam yang sejak lama mengalami
kemunduran. Kemajuan Barat itu dipercepat oleh penemuan dan perkembangan dalam
bidang ilmu pengetahuan. Dengan demikian, Eropa menjadi penguasa lautan dan
bebas melakukan kegiatan ekonomi dan pedagangan dari dan ke seluruh dunia,
tanpa mendapat hambatan berarti dari lawan-lawan mereka. Bahkan, satu demi satu
negeri Islam jatuh ke bawah kekuasaannya sebagai negeri jajahan.
Negeri-negeri Islam yang pertama kali jatuh ke bawah
kekuasaan Eropa adalah negeri-negeri yang jatuh dari pusat kekuasaan Kerajaan
Turki Usmani. Negeri-negeri Islam yang pertama dapat dikuasai Barat itu adalah
negeri-negeri Islam di Asia Tenggara dan di Anak Benua India. Sementara
negeri-negeri Islam di Timur Tengah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan
Usmani, baru diduduki Eropa pada masa berikutnya.[19]
2. Kemunduran Kerajaan Usmani Dan Ekspansi
Barat Ke Timur Tengah
Kemajuan-kemajuan
Eropa dalam teknologi militer dan industri perang membuat Kerajaan Usmani
menjadi kecil di hadapan Eropa. Akan tetapi, nama besar Turki Usmani masih
membuat Eropa Barat segan untuk menyerang atau mengalahkan wilayah-wilayah yang
berada di bawah kekuasaan kerajaan Islam ini, termasuk daerah-daerah yang
berada di Eropa Timur. Namun, kekalahan besar Kerajaan Turki Usmani dalam
menghadapi serangan Eropa di Wina tahun 1683 M membuka mata Barat bahwa
Kerajaan Usmani mundur jauh sekali. Sejak itulah Kerajaan Turki Usmani
berulangkali mendapat serangan-serangan besar dari Barat.
Sejak
kekalahan dalam pertempuran Wina itu, kerajaan Usmani juga menyadari akan
kemundurannya dan kemajuan Barat. Usaha-usaha pembaharuan mulai dilaksanakan
dengan mengirim duta-duta ke negara-negara Eropa, terutama Perancis, untuk
mempelajari suasana kemajuan di sana dari dekat. Celebi Mehmed diutus ke Paris
tahun 1720 M dan diinstruksikan untuk mengunjungi pabrik-pabrik,
benteng-benteng petahanan, dan institusi-institusi lainya. Ia kemudian memberi
laporan tentang kemajuan teknik, organisasi angkatan perang modern, dan
kemajuan lembaga-lembaga sosial lainnya. Laporan-laporan itu mendorong Sultan
Ahmad III (1703-1730 M) untuk memulai pembaharuan di kerajaannya. Pada masa
kekuasaannya didatangkan ahli-ahli militer dari Eropa untuk tujuan pembaharuan
militer dalam Kerajaan Usmani.[20]
Meskipun demikian,
usaha-usaha pembaharuan itu bukan saja gagal menahan kemunduran Kerajaan Turki
Usmani yang terus mengalai kemerosotan, tetapi juga tidak membawa hasil yang
diharapkan. Penyebab kegagalan itu terutama adalah kelemahan raja-raja Usmani
karena wewenangnya sudah jauh menurun. Faktor terpenting lainnya yang membawa kegagalan
itu adalah karena ulama-ulama dan tentara Yenissari yang sejak abad ke-17 M
menguasai suasana politik dalam Kerajaan Turki Usmani serta menolak usaha
pembaharuan itu. Dengan demikian, Kerajaan Turki Usmani terus saja mendekati jurang kehancurannya,
sementara Barat yang menjadi ancaman baginya semakin besar.
Usaha
pembaharuan Turki Usmani baru mengalami kemajuan setelah penghalang pembaharuan
utama, yaitu tentara Yenissari dibubarkan oleh Sultan Mahmud II (1807-1839 M) pada
tahun 1826 M. Struktur kekuasaan kerajaan dirombak, lembaga-lembaga pendidikan
modern didirikan, buku-buku barat diterjemahkan ke dalam bahasa Turki,
siswa-siswa berbakat dikirim ke Eropa untuk belajar, dan yang terpenting sekali
adalah sekolah-sekolah yang berhubungan dengan kemiliteran didirikan. Bidang
militer inilah yang utama dan pertama mendapat perhatian. Akan tetapi, meski
banyak mendatangkan kemajuan, hasil gerakan pembaharuan tetap tidak berhasil
menghentikan gerak maju Barat ke dunia Islam di abad ke-19 M.[21]
Selama abad ke-18 M Barat menyerang ujung garis medan pertempuran Islam di
Eropa Timur, wilayah kekuasaan Kerajaan Usmani. Akhir dari serangan-serangan
itu adalah ditandatanganinya Perjanjian
San Stefano (Maret, 1878 M) dan Perjanjian
Berlin ( Juni-Juli 1878 M) antara kerajaan Usmani dengan Rusia. Dengan
demikian berakhirlah kekuasaan Turki di Eropa. Sementara kebanyakan daerah
berpenduduk mayoritas muslim di Timur Tengah pada abad berikutya mulai diduki
bangsa Eropa.
Di samping
itu, gerakan pembaharuan malah justru mengancam kekuasaan para sultan yang
absolut, karena para peuang Turki melihat bahwa kelemahan Turki terletak pada
keabsolutan Sultan itu. Mereka ingin membatasi kekuasaan Sultan dengan
membentuk konstitusi sehingga lahir gerakan tanzimat, Usmani Muda, Turki Muda,
dan Partai Persatuan dan Kemajuan (Ittihad ve Terekki).
Ketika Perang
Dunia I meletus, Turki bergabung dengan Jerman yang kemudian mengalami
kekalahan,. Akibatnya, kekuasaan kerajaan Turki Usmani semakin ambruk. Partai
Persatuan dan Kemajuan memberontak kepada Sultan dan dapat menghapuskan
kekhalifahan Usmani. Kemudian membentuk Turki modern pada tahun 1924 M. Dengan
demikian, kesatuan politik dalan negeri Kerajaan Turki Usmani sejak
bergeloranya gerakan pembaharuan justru tidak stabil teritama karena para
sultan tida mampu mengakomodasi pemikiran yang berkembang di kalangan pemimpin bangsanya.
Terkecuali itu, peperangan-peperangan melawan Barat di Eropa Timur terus
berkecamuk, memakan dan mengurus tenaga, berakhir dengan kekalahan di pihak
Turki.[22]
Di pihak lain,
satu demi satu daerah-daerah di Asia dan Afrika yang sebelumnya dikuasai Turki
Usmani, melepaskan diri dari Konstantinopel. Dan sekian banyak faktor yang
menyebabkan kemunduran Turki Usmani itu yang tak kalah pentingnya adalah
timbulnya perasaan nasionalisme pada bangsa-bangsa yang berada di bawah
kekuasaanya. Bangsa Armenia dan Yunani yang beragama Kristen berpaling ke
Barat, memohon bantuan Barat untuk kemerdekaan tanah airnya. Bangsa Kurdi di
pegunungan dan Arab di padang pasir dan lembah-lembah juga bangkit untuk
melepaskan diri dari cengkeraman penguasa Turki Usmani.
Demikianlah
keadaan dunia Islam pada abad ke-19 M, sementara Eropa sudah jauh
meninggalkannya. Eropa dipersenjatai dengan ilmu modern dan penemuan yang
membuka rahasia alam. Satu demi satu negeri-negeri Islam yang sedang rapuh itu
jatuh ke tangan Barat. Dalam waktu yang tidak lama, kerajaan-kerajaan besar
Eropa sudah membagi-bagi seluruh dunia Islam. Inggris merebut India dan Mesir.
Rusia menyebrangi Kaukasus dan menguasai Asia Tengah. Perancis menaklukan
Afrika Utara, bangsa-bangsa Eropa lainnya mendapat pula bagiannya dari warisan
Islam itu.
Ketika terjadi
Perang Dunia I (1915) Turki Usmani berada di pihak yang kalah. Sampai tahun
1919 M, Turki diserbu tentara sekutu. Sejak itu kebesaran Turki Usmani
benar-benar tenggelam, bahkan tidak lama kemudian. Kekhalifahannya dihapuskan
(1924 M). Semua daerah kekuasaannya yang luas baik di Asia maupun Afrika
diambil alih oleh negara-negara Eropa yang menang perang. Perang Dunia itu
merupakan babak akhir proses penaklukan Barat terhadap negeri-negeri Islam.
Sejak itu, seakan-akan tidak ada lagi kerajaan Islam yang betul-betul merdeka.
Penetrasi Barat
ke pusat dunia Islam di Timur Tengah pertama-pertama dilakukan oleh dua bangsa
Eropa terkemuka, Inggris dan Perancis, yang memang sedang bersaing. Inggris
terlebih dulu menanamkan pengaruhnya di India. Perancis merasa perlu memutuskan
hubungan komunikasi antara Inggris di Barat dan India di Timur. Oleh karena
itu, pintu gerbang ke India, yaitu Mesir, harus berada di bawah kekuasaannya.
Untuk maksud tersebut, Mesir dapat ditaklukkan Perancis tahun 1798 M.[23]
Alasan lain
Perancis menakalukan Mesir adalah untuk memasarkan hasil-hasil industrinya.
Mesir, di samping mudah dicapai dari Perancis juga dapat menjadi sentral
aktivitas untuk mendistribusikan barang-barang ke Turki, Syria, Hijaz, begitu
pula ke Timur Jauh. Di balik itu, Napoleon Bonaparte sendiri, sebagai Panglima
Ekspedisi Perancis itu mempunyai keinginan untuk mengikuti jejak Alexander the
Great dari Macedonia, yang jauh di masa lalu pernah menguasai Eropa dan Asia
sampai ke India. Akan tetapi, kondisi politik Perancis menghendaki Napoleon
meninggalkan Mesir tahun 1799 M. Di Mesir, Jendral Kleber menggantikan
kedudukan Napoleon. Dalam suatu pertempuran laut antara Inggris dan Perancis
Jendral Kleber kalah. Jendral Kleber dan Ekspedisinya meninggalkan Mesir 31
Agustus 1801 M, dan di Mesir terjadi kekosongan kekuasaan.
Kekosongan itu
dimanfaatkan oleh seorang perwira Turki, Muhammad Ali (1769-1849 M) yang
didukung oleh rakyat berhasil mengambil kekuasaan dan mendirikan dinastinya.
Dimulai oleh Muhammad Ali, Mesir sempat menegakkan kedaulatan dan melakukan
beberapa pembaharuan, tetapi pada tahun 1882 M, negeri ini ditaklukan oleh
Inggris.
Sementara itu,
Rusia menggerogoti wilayah-wilayah muslim di Asia Tengah, terutama setelah ia
berhasil mengalahkan Turki Usmani yang berakhir dengan perjanjia San Stefano
dan perjanjian Berlin. Satu per satu pula negeri-negeri muslim jatuh ke tangan
Rusia.
Faktor utama
yang menarik kehadiran kekuatan-kekuatan Eropa ke negeri-negeri muslim adalah
ekonomi dan politik. Kemjuan Eropa dalam bidang industri menyebabkan
membutuhkan bahan-bahan baku, di samping rempah-rempah. Mereka juga membutuhkan
negeri-negeri tempat memasarkan hasil industri merka itu. Untuk menunjang
perekonomian tersebut, kekuatan politik diperlukan sekali. Akan tetapi,
persoalan agama seringkali terlibat dalam proses politik penjajahan barat atas
negeri-negeri Islam ini. Trauma perang Salib agaknya masih membekas pada
sebagian orang Barat, terutama Portugis dan Spanyol, karena dua negara ini
untuk jangka waktu berabad-abad berada di bawah kekuasaan Islam.[24]
BAB
III
KESIMPULAN
A. Strategi
Politik, Pemerintahan, Perkembangan Peradaban, Dan Kehancuran Kerajaan Turki.
Lima faktor yang
menyebabkan kesuksesan Dinasti Utsman dalam perluasan wilayah Islam diantaranya
:
a. Kemampuan orang-orang Turki dalam strategi
perang terkombinasi dengan cita-cita memperoleh ghonimah (harta rampasan
perang).
b. Sifat dan karakter orang Turki yang
selalu ingin maju dan tidak pernah diam.
c. Semangat jihad dan ingin mengembangkan
Islam.
d. Letak Istanbul yang sangat strategis
sebagai ibu kota kerajaan juga sangat menunjang kesuksesan perluasan wilayah ke
Eropa dan Asia.
e. Kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya
yang kacau memudahkan Dinasti Utsmani mengalahkannya.
2. Pemerintahan
Pada Masa Turki Usmani
Kerajaan Turki Utsmani
merupakan kerajaan yang menganut sistem pemerintahan monarki atau turun
menurun. Raja-raja dinasti Utsmani bergelar Sultan dan Khalifah sekaligus.
Sultan menguasai kekuasaan duniawi dan Khalifah di bidang Keagamaan.
3. Perkembangan
Peradaban
a.
Bidang
pemerintahan dan militer
Para
pemimpin kerajaan Utsmani pada masa-masa pertama adalah orang-orang yang kuat,
sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas.
b.
Bidang
intelektual dan ilmu pengetahuan
Terjadinya
tansformasi pendidikan, dengan mendirikan sekolah-sekolah dasar dan menengah
(1861) dan perguran tinggi (1869), dan juga mendirikan fakultas kedokteran dan
fakultas hukum.
c.
Bidang
Kebudayaan
Dalam bidang
kebudayaan Turki Utsmani berkembang seni arsitektur Islam berupa
bangunan-bangunan masjid. Selain itu banyak dibangunnya infrastruktur baik di
kota-kota besar atau kota-kota lainnya.
d.
Bidang
Keagamaan
Kehidupan keagamaan merupakan bagian dari
sistem sosial dan politik Turki Utsmani. Ulama mempunyai kedudukan tinggi dalam
kehidupan negara dan masyarakat. Mufti sebagai pejabat tinggi agama, tanpa
legitimasi Mufti, keputusan hukum kerajaan tidak dapat berjalan. Pada masa ini,
kehidupan tarekat berkembang pesat.
4. Penyebab Kehancuran Kerajaan Turki
Utsmani
Kemunduran Turki Utsmani ditandai dengan beberapa hal
sebagai berikut:
Pertama, melemahnya semangat prajurit Ustmani hingga menyebabkan berbagai
serangan yang dilancarkan untuk mempertahankan wilayah tidak dapat dipatahkan
oleh lawan. Kedua, menyadari akan
kelemahan-kelemahan Ustmani, mulailah sebagai wilayah di timur mengadakan
pemberontakan untuk melepaskan diri dari kekhalifahan Ustmani.
B. Kemunduran Dunia Islam Setelah Turki
Utsmani
Pada awal
kebangkitannya, Eropa menghadapi tantangan yang sangat berat. Di hadapannya
masih terdapat kekuatan-kekuatn perang Islam yang sulit dikalahkan, terutama
Kerajaan Usmani yang berpusat di Turki. Dua penemuan itu, sungguh tak
terterkirakan nilainya, Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan, karena
tidak tergantung lagi kepada jalur lama yang dikuasai umat Islam. Perekonomian
bangsa-bangsa Eropa pun semakin maju karena derah-daerah baru terbuka baginya.
Tak lama setelah itu, mulailah kemajuan Barat melampaui kemajuan Islam yang
sejak lama mengalami kemunduran. Dengan demikian, Eropa menjadi penguasa lautan
dan bebas melakukan kegiatan ekonomi dan pedagangan dari dan ke seluruh dunia,
tanpa mendapat hambatan berarti dari lawan-lawan mereka. Bahkan, satu demi satu
negeri Islam jatuh ke bawah kekuasaannya sebagai negeri jajahan.
DAFTAR PUSTAKA
Nuhakim, Moh, Jatuhnya
Sebuah Tamadun, 2012, Kementrian Agama Republik Indonesia, Jakarta.
Yatim, Badri, Sejarah
Peradaban Islam, 2001, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Yatim, Badri, Sejarah
Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, 2013, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
About
Cemoro Sewu, SPI : Strategi Kejayaan Turki Utsmani Dalam Bidang Kemiliteran
dan Pemerintahan, http://duniacemorosewu.wordpress.com/2012/10/05/spi-strategi-kejayaan-turki-utsmani-dalam-bidang-kemiliteran-dan-pemerintahan/
Diakses pada 14 Oktober 2017
Mustangin Buchory, Turki Utsmani
(Kritik Terhadap Sistem Pemerintahan Islam), http://mustanginbuchory89.blogspot.co.id/2013/05/turki-utsmani-kritik-terhadap-sistem.html
Diakses pada 21 Oktober 2017
[1] Moh Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun (Jakarta:
Kementrian Agama Republik Indonesia, 2012), 146.
[2] Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun, 146.
[3] About Cemoro
Sewu, SPI : Strategi Kejayaan Turki Utsmani Dalam Bidang Kemiliteran dan
Pemerintahan, http://duniacemorosewu.wordpress.com/2012/10/05/spi-strategi-kejayaan-turki-utsmani-dalam-bidang-kemiliteran-dan-pemerintahan/ Diakses pada
14 Oktober 2017.
[4] About Cemoro
Sewu, SPI : Strategi Kejayaan Turki Utsmani Dalam Bidang Kemiliteran dan,
Pemerintahan, http://duniacemorosewu.wordpress.com/2012/10/05/spi-strategi-kejayaan-turki-utsmani-dalam-bidang-kemiliteran-dan-pemerintahan/ Diakses pada
14 Oktober 2017
[5] Mustangin
Buchory, Turki Utsmani (Kritik Terhadap Sistem Pemerintahan Islam), http://mustanginbuchory89.blogspot.co.id/2013/05/turki-utsmani-kritik-terhadap-sistem.html Diakses pada
21 Oktober 2017
[6] Mustangin
Buchory, Turki Utsmani (Kritik Terhadap Sistem Pemerintahan Islam), http://mustanginbuchory89.blogspot.co.id/2013/05/turki-utsmani-kritik-terhadap-sistem.html Diakses pada
21 Oktober 2017
[7] Badri Yatim, Sejarah
Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II (Jakarta, Rajawali Pers, 2013),
133-134.
[8] Yatim, Sejarah
Peradaban Islam Dirasah..., 134.
[9] Ibid, 135.
[10] About Cemoro Sewu, SPI : Strategi Kejayaan Turki Utsmani Dalam
Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan, http://duniacemorosewu.wordpress.com/2012/10/05/spi-strategi-kejayaan-turki-utsmani-dalam-bidang-kemiliteran-dan-pemerintahan/ Diakses pada 14 Oktober 2017
[11] Yatim, Sejarah
Peradaban Islam Dirasah..., 135-136.
[12] Ibid, 136.
[13] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2001), 136-137.
[14] Yatim, Sejarah Peradaban..., 163-168.
[15] Ibid, 163-168.
[16] Yatim, Sejarah
Peradaban Islam Dirasah..., 167.
[17] Ibid, 168.
[18] Yatim, Sejarah
Peradaban..., 174.
[19] Yatim, Sejarah Peradaban..., 174-175.
[20] Ibid, 178.
[21] Yatim, Sejarah Peradaban..., 178-179.
[22] Yatim, Sejarah Peradaban..., 180.
[23] Yatim, Sejarah Peradaban..., 180-181.
[24] Yatim, Sejarah Peradaban..., 183-184.
Komentar
Posting Komentar