Langsung ke konten utama

MAKALAH TENTANG KERAJAAN TURKI USMANI

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Strategi Politik, Pemerintah, Perkembangan Peradaban, Dan Penyebab Kehancuran Kerajaan Turki Ustmani
Diantara ketiga kerajaan besar (Kerajaan Safawi, Kerajaan Mughal, dan Kerajaan Ustmani), Kerajaan Ustmanilah yang menjadi kerajaan yang paling besar dan lama, sekitar enam setengah abad. Wilayah kekuasanya juga paling luas. Ketika semua kerajaan Islam yang besar telah mengalami kehancuran oleh politik kaum penjajah Barat, maka Ustmani masih tetap bertahan hingga 1924 M. Ia jatuh dan digantikan oleh sistem republik dengan dibatasi wilayahnya seperti yang sekarang.
Bangsa Turki mempunyai dua dinasti yang berhasil mengukir sejarah dunia. Pertama, Dinasti Saljuk, dan kedua Dinasti Turki Ustmani. Tentang Turki Saljuk telah dijelaskan bahwa kehancuran Dinasti ini disebabkan oleh serangan pasukan Mongol yang merupakan momen terbentuknya Dinasti Ustmani.
Utsmani semula adalah keluarga suku kecil Ughu yang kemudian bergabung dengan Turki Saljuk karena tekanan tentara Mongol. Tetapi setelah Etorgrul pemimpin mereka wafat (1280 M), puteranya yang bernama Usmani menggantikannya sebagai pemimpin suatu wilayah pemberian Turki Saljuk yang merdeka. Sedangkan Dinasti Saljuk yang menghantarkannya hancur oleh serangan tentara Mongol. Karena kekuatan militernya, Usmani dijadikan benteng pertahanan terdepan bagi dinasti-dinasti kecil dari ancaman serangan Mongol. Secara tidak langsung mereka telah mengaku Usman sebagai penguasa tertinggi dengan gelar Padinsyah Ali Usman.[1]
Selanjutnya, kekuasaan Usmani secara resmi di pegang oleh khalifah-khalifah yang banyak jumlahnya, dimulai dari pendirinya Usman Bin Ertogrul (1281-1324 M), disusul oleh khalifah-khalifah besar seperti Muhammad II Fatih dan Mahmud II, sampai dengan khalifah terakhir Abdul Majid II (1922-1924 M).[2]

1.    Strategi Politik Kerajaan Turki Ustmani
Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Paradisyah Al-Usman (raja besar keluarga Usman), setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Pertama dia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan Broessa pada tahun 1317. Pada masa Orkhan dapat ditaklukkan wilayah Azmir, Tawasyanli, Uskandar, Ankara, dan Gallipoli.
Setelah itu dilanjutkan Murad I, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa dan dapat menaklukkan Adrianopel yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan yang baru, Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Pengganti Murad I dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa. Peristiwa ini merupakan catatan sejarah yang amat gemilang bagi umat.
Islam pada masa Sultan Muhammad al-Fatih dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat kerajaan Bizantium, lebih mudahlah arus ekspansi Turki Utsmani ke benua Eropa. Ketika Sultan Salim I naik tahta, ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menaklukkan Persia, Syiria, dan dinasti Mamalik di Mesir, usaha ini kemudian dilanjutkan oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni. Ia berhasil menundukkan Irak, Belgrado, Pulau Rodhes, Tunius, Budapest, dan Yaman.[3]
Lima faktor yang menyebabkan kesuksesan Dinasti Utsman dalam perluasan wilayah Islam diantaranya :
a.    Kemampuan orang-orang Turki dalam strategi perang terkombinasi dengan cita-cita memperoleh ghonimah (harta rampasan perang).
b.    Sifat dan karakter orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam.
c.    Semangat jihad dan ingin mengembangkan Islam.
d.   Letak Istanbul yang sangat strategis sebagai ibu kota kerajaan juga sangat menunjang kesuksesan perluasan wilayah ke Eropa dan Asia.
e.    Kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya yang kacau memudahkan Dinasti Utsmani mengalahkannya.[4]

2.    Pemerintahan Masa Kerajaan Turki Ustmani
Kerajaan Turki Utsmani merupakan kerajaan yang menganut sistem pemerintahan monarki atau turun menurun. Raja-raja dinasti Utsmani bergelar Sultan dan Khalifah sekaligus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi dan Khalifah di bidang Keagamaan. Dalam memperoleh kekuasaaan tidak selalu diwariskan kepada anak tertua, tetapi juga kepada anak yang lain yang berhak, jika tidak ada maka saudara sang raja yang menggantikannya.
Seorang Sultan juga dibantu oleh seorang Mufti dalam menjalankan pemerintahan, atau yang lebih dikenal dengan Syaikhul-Islam dan Syaikul-A’dham. Syaikhul-Islam mewakili di bidang Agama, sedang Syaikhul-A’dham di bidang duniawi.[5]
Selama masa kesultanan Turki Utsmani (1299-1942 M), sekitar 625 tahun berkuasa tidak kurang dari 40 Sultan. Dalam hal ini, Syafiq A. Mughni membagi sejarah kekuasaan Turki Utsmani menjadi lima periode, yaitu :
a.    Periode pertama (1299-1402), yang dimulai dari berdirinya kerajaan, ekspansi pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan timur yaitu dari pemerintahan Utsman I sampai pemerintahan Bayazid.
b.    Periode kedua (1402-1566), ditandai dengan restorasi kerajaan dan cepatnya pertumbuhan sampai ekspansinya yang terbesar. Dari masa Muhammad I sampai Sulaiman I.
c.    Periode ketiga (1566-1699), periode ini ditandai dengan kemampuan Usmani untuk mempertahankan wilayahnya. Sampai lepasnya Hongaria. Namun kemunduran segera terjadi dari masa pemerintahan Salim II sampai Mustafa II.
d.   Periode keempat (1699-1838), periode ini ditandai dengan berangsur-angsur surutnya kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah yang di tangan para penguasa wilayah, dari masa pemerintahan Ahmad III sampai Mahmud II.
e.    Periode kelima (1838-1922), periode ini ditandai dengan kebangkitan kultural dan administrasi dari negara di bawah pengaruh ide-ide barat, dan masa pemerintahan Sultan A. Majid I sampai A. Majid II. [6]

3.    Perkembangan Peradaban Kerajaan Turki Ustmani
a.    Bidang Pemerintahan Dan Militer
Para pemimpin kerajaan Utsmani pada masa-masa pertama adalah orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun demikian, kemajuan kerajaan Utsmani sehingga mencapai masa keemasannya bukan hanya karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor lain yang mendukung keberhasilan ekspansi itu. Yang terpenting diantaranya adalah keberanian, keterampilan, ketangguhan dan kekuatan militernya yang sanggup bertempur kapan dan dimana saja.[7]
Untuk pertama kali, kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa. Ketika itu, pasukan tempur yang besar sudah terorganisasi. Pengorganisasian yang baik, taktik dan strategi tempur militer Utsmani berlangsung tanpa halangan berarti. Namun tak lama setelah kemenangan tercapai, kekuatan militer yang ini dilanda kekisruhan. Kesadaran prajuritnya menurun. Mereka merasa dirinya sebagai pemimpin-pemimpin yang berhak menerima gaji. Akan tetapi keadaan tersebut segera dapat diatasi oleh Orkhan dengan jalan mengadakan perombakan besar-besaran dalam kemiliteran.
Pembaharuan dalam tubuh organisasi militer oleh Orkhan, tidak hanya dalam bentuk mutasi personil-personil pimpinan, tetapi juga diadakan perombakan dalam keanggotaan. Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissery atau Inkisariyah. Pasukan inilah yang dapat mengubah  Dinasti Utsmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukan negeri-negeri non-muslim.[8]
Disamping Jenissery, ada lagi prajurit dari tentara feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara atau kelompok militer Thaujiah. Angkatan laut pun dibenahi, karena ia memiliki peranan yang besar dalam perjalanan ekspansi Turki Utsmani. Pada abad ke-16, angkatan laut Turki Utsmani yang tangguh mencapai puncak kejayaannya. Kekuatan militer Utmani yang tangguh itu dengan cepat dapat menguasai wilayah yang sangat luas, baik di Asia, Afrika, maupun Eropa. Faktor utama yang mendorong kemajuan dilapangan militer ini adalah tabiat bangsa Turki itu sendiri yang bersifat militer, disiplin dan patuh pada peraturan. Tabiat ini merupakan tabiat alami yang mereka warisi dari nenek moyang mereka di Asia Tengah.[9]
Keberhasilan ekspansi tersebut dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola pemerintahan yang luas, sultan-sultan Turki Utsmani senantiasa bertindak tegas. Dalam struktur pemerintahan, Sultan sebagai penguasa tertinggi, dibantu oleh Shadr al-A‘zham (perdana menteri) yang membawahi Pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat I. Dibawahnya terdapat beberapa orang ­al-Zanaziq atau al-Alawiyah (bupati).
Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, di masa Sultan Sulaiman I disusun sebuah kitab undang-undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Utsmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan Sulaiman I yang amat berharga ini, di ujung namanya ditambah dengan gelar Sultan Sulaiman al-Qanuniy.
b.   Bidang Intelektual Dan Ilmu Pengetahuan
Kemajuan bidang intelektual diabad ke-19 pada masa pemerintahan Turki Utsmani tampaknya tidak lebih menonjol dibandingakan bidang politik dan kemiliteran. Dari aspek-aspek intelektual yang dicapai pada periode ini adalah sebagai berikut :
Terdapat tiga buah surat kabar yang muncul pada masa ini, yaitu:
1) Berita harian Takvini Veka (1831),
2) Jurnal Tasviri Efkyar (1862),
3) Jurnal Terjumani Ahval (1860).[10]
Terjadinya transformasi pendidikan, dengan mendirikan sekolah-sekolah dasar dan menengah (1861) dan perguran tinggi (1869), dan juga mendirikan fakultas kedokteran dan fakultas hukum. Disamping itu juga mengirimkan para pelajar yang berprestasi ke Prancis untuk melanjutkan studinya, dimana hal ini sebelumnya belum pernah terjadi. Selain hal diatas, muncul juga sastrawan-sastrawan dengan hasil karya-karyanya setelah menyelesaikan studi di luar negeri. Diantaranya adalah Ibrahim Shinasi, pendiri surat kabat Tasviri Ekfyar. Diantara karya yang dihasilkannya adalah The Poets Wedding (komedi). Salah seorang pengikutnya adalah Namik Kemal dengan karyanya Fatherland atau  Silistria. Disamping itu, ada juga Ahmad Midhat dengan Entertaining Tales dan Mehmed Taufiq dengan Year in Istambul.
c.    Bidang Kebudayaan
Kebudayaan Turki Utsmani merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan, diantaranya adalah kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Sedangkan ajaran-ajaran tentang prinsip ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan, keilmuwan, dan huruf mereka dari bangsa Arab.[11]
Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Utsmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan, mereka kelihatan tidak begitu menonjol. Karena itulah, di dalam khazanah intelektual Islam kita tidak menemukan ilmuwan terkemuka dari Turki Utsmani. Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah, seperti Masjid Al-Muhammadi atau Masjid Jami’ Sultan Muhammad Al-Fatih, Masjid Agung Sulaiman, dan Masjid Abi Ayyub Al-Anshari. Masjid-masjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid yang asalnya gereja Aya Sofia. Hiasan kaligrafi itu dijadikan penutup gambar-gambar Kristiani yang ada sebelumnya.
Pada masa Sulaiman di kota-kota besar dan kota-kota lainnya banyak dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, villa, dan pemandian umum. Disebutkan bahwa 235 buah dari bangunan itu dibangun di bawah koordinator Sinan, seorang arsitek asal Anatolia. [12]
d.      Bidang Keagamaan
Kehidupan keagamaan merupakan bagian dari sistem sosial dan politik Turki Utsmani. Ulama mempunyai kedudukan tinggi dalam kehidupan negara dan masyarakat. Mufti sebagai pejabat tinggi agama, tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum kerajaan tidak dapat berjalan. [13] Pada masa ini, kehidupan tarekat berkembang pesat. Al-Bektasiy dan Al-Maulawiy merupakan dua ajaran tarekat yang paling besar. Al-Bektasiy merupakan tarekat yang sangat berpengaruh terhadap tentara Jenissari, sedangakan Al-Maulawiy berpengaruh  besar dikalangan penguasa sebagai imbangan dari kelompok Jenissariy Bekktasiy.
            Sementara itu, ilmu pengetahuan seperti fikih, tafsir, kalam dan lain-lain, tidak mengalami perkembangan. Kebanyakan penguasa Usmani cenderung bersikap taklid dan fanatik terhadap suatu mazhab dan menentang mazhab-mazhab lainnya.
Terdapat beberapa faktor yang mendorong kemajuan yang terjadi di masa dinasti Turki Utsmani, diantaranya adalah:
1)   Adanya sistem pemberian hadiah berupa tanah kepada tentara yang berjasa.
2)   Tidak adanya diskriminasi dari pihak penguasa
3)   Kepengurusan organisasi yang cakap.
4)   Pihak Turki memberikan perlakuan baik terhadap saudara-saudara baru dan memberikan kepada mereka hak rakyat secara penuh.
5)   Turki Ustmani telah menggunakan tenaga-tenaga profesional dan terampil.
6)   Kedudukan sosial orang-orang Turki telah menarik minat penduduk negeri-negeri Balkan untuk memeluk agama Islam
7)   Rakyat memeluk agama Kristen hanya dibebani biaya perlindungan (jizyah) yang relatife murah dibandingkan pada masa Bizantium.
8)   Semua penduduk memperoleh kebebasan untuk menjalankan kepercayaannya masing-masing.
9)   Karena Turki tidak fanatik agama, wilayah-wilayah Turki menjadi tempat perlindungan orang-orang Yahudi dari serangan kerajaan Kristen di Spanyol dan Portugal pada abad ke-16.

4.    Penyebab Kehancuran Kerajaan Turki Utsmani
Proses kemunduran hingga jatuhnya Ustmani berlangsung sangat lama, yaitu selama tiga abad[14], mulai berakhirnya masa Sulaiman II Al-Qanuni (1520 M) hingga masa kejatuhannya (1924 M). Kemunduran tersebut ditandai dengan beberapa hal sebagai berikut :
a.    Melemahnya semangat prajurit Ustmani hingga menyebabkan berbagai serangan yang dilancarkan untuk mempertahankan wilayah dapat dipatahkan oleh lawan.
b.    Menyadari akan kelemahan-kelemahan Ustmani, mulailah berbagai wilayah di timur mengadakan pemberontakan untuk melepaskan diri dari kekhalifahan Ustmani.[15]
Banyak faktor yang menyebabkan Kerajaan Usmani itu mengalami kemunduran, di antaranya adalah :
a.    Wilayah Kekuasaan yang Sangat Luas
Administrasi pemerintahan bagi suatu negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi pemerintahan Kerajaan Turki Usmani tidak beres. Di pihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehingga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal ini tentu mengurangi potensi yang seharusnya digunakan untuk membangun negara.
b.    Heterogenitas Penduduk
Sebagai kerajaan besar, Turki Utsmani menguasai wilayah yang amat luas, mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libya, Tunis, dan Aljazair di Afrika; dan Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa. Untuk mengatur penduduk yang beragam dan tersebar di wilayah yang luas itu, diperlukan suatu organisasi pemerintahan yang teratur. Perbedaan bangsa dan agama acap kali melatarbelakangi terjadinya pemberontakan dan peperangan.
c.    Kelemahan Para Penguasa
Sepeninggalan Sulaiman Al-Qanuni, Kerajaan Turki Usmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian terutama dalam kepemimpinannya. Akibatnya, pemerintahan menjadi kacau. Kekacauan itu tidak pernah dapat diatasi secara sempurna, bahkan semakin lama menjadi semakin parah.[16]
d.   Budaya Pungli
Pungli merupakan perbuatan yang sudah umum terjadi dalam Kerajaan Usmani. Setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang harus “dibayar” dengan sogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan tersebut. Berjangkitnya budaya pungli ini mengakibatkan dekadensi moral kian merajalela yang membuat pejabat semakin rapuh.
e.    Merosotnya Ekonomi
Akibat perang yang tidak pernah berhenti, perekonomian negara merosot. Pendapatan berkurang, sementara belanja negara sangat besar termasuk untuk biaya perang.[17]



B.  Kemunduran Dunia Islam Setelah Turki Utsmani
1.      Renaisans Di Eropa
Pada awal kebangkitannya, Eropa menghadapi tantangan yang sangat berat. Di hadapannya masih terdapat kekuatan-kekuatn perang Islam yang sulit dikalahkan, terutama Kerajaan Usmani yang berpusat di Turki.[18] Tidak ada jalan lain, mereka harus menembus lautan yang sebelumnya hanya dipandang sebagai dinding yang membatasi gerak mereka. Mereka melakukan berbagai penelitian tentang rahasia alam, berusaha menaklukkan lautan dan menjelajahi benua yang sebelumnya masih diliputi kegelapan. Setelah Christoper Colombus menemukan Benua Amerika (1492 M) dan Vasco da Garna menemukan jalan ke Timur melalui Tanjung Harapan (1498 M) benua Amerika dan kepulauan Hindia segera jatuh ke bawah kekuasaan Eropa. Dua penemuan itu, sungguh tak terterkirakan nilainya, Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan, karena tidak tergantung lagi kepada jalur lama yang dikuasai umat Islam.
Perekonomian bangsa-bangsa Eropa pun semakin maju karena daerah-daerah baru terbuka baginya. Mereka dapat memperoleh kekayaan yang tak terhingga untuk meningkatkan kesejahteraan negerinya. Tak lama setelah itu, mulailah kemajuan Barat melampaui kemajuan Islam yang sejak lama mengalami kemunduran. Kemajuan Barat itu dipercepat oleh penemuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Dengan demikian, Eropa menjadi penguasa lautan dan bebas melakukan kegiatan ekonomi dan pedagangan dari dan ke seluruh dunia, tanpa mendapat hambatan berarti dari lawan-lawan mereka. Bahkan, satu demi satu negeri Islam jatuh ke bawah kekuasaannya sebagai negeri jajahan.
Negeri-negeri Islam yang pertama kali jatuh ke bawah kekuasaan Eropa adalah negeri-negeri yang jatuh dari pusat kekuasaan Kerajaan Turki Usmani. Negeri-negeri Islam yang pertama dapat dikuasai Barat itu adalah negeri-negeri Islam di Asia Tenggara dan di Anak Benua India. Sementara negeri-negeri Islam di Timur Tengah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Usmani, baru diduduki Eropa pada masa berikutnya.[19]

2.      Kemunduran Kerajaan Usmani Dan Ekspansi Barat Ke Timur Tengah
Kemajuan-kemajuan Eropa dalam teknologi militer dan industri perang membuat Kerajaan Usmani menjadi kecil di hadapan Eropa. Akan tetapi, nama besar Turki Usmani masih membuat Eropa Barat segan untuk menyerang atau mengalahkan wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Islam ini, termasuk daerah-daerah yang berada di Eropa Timur. Namun, kekalahan besar Kerajaan Turki Usmani dalam menghadapi serangan Eropa di Wina tahun 1683 M membuka mata Barat bahwa Kerajaan Usmani mundur jauh sekali. Sejak itulah Kerajaan Turki Usmani berulangkali mendapat serangan-serangan besar dari Barat.
Sejak kekalahan dalam pertempuran Wina itu, kerajaan Usmani juga menyadari akan kemundurannya dan kemajuan Barat. Usaha-usaha pembaharuan mulai dilaksanakan dengan mengirim duta-duta ke negara-negara Eropa, terutama Perancis, untuk mempelajari suasana kemajuan di sana dari dekat. Celebi Mehmed diutus ke Paris tahun 1720 M dan diinstruksikan untuk mengunjungi pabrik-pabrik, benteng-benteng petahanan, dan institusi-institusi lainya. Ia kemudian memberi laporan tentang kemajuan teknik, organisasi angkatan perang modern, dan kemajuan lembaga-lembaga sosial lainnya. Laporan-laporan itu mendorong Sultan Ahmad III (1703-1730 M) untuk memulai pembaharuan di kerajaannya. Pada masa kekuasaannya didatangkan ahli-ahli militer dari Eropa untuk tujuan pembaharuan militer dalam Kerajaan Usmani.[20]
Meskipun demikian, usaha-usaha pembaharuan itu bukan saja gagal menahan kemunduran Kerajaan Turki Usmani yang terus mengalai kemerosotan, tetapi juga tidak membawa hasil yang diharapkan. Penyebab kegagalan itu terutama adalah kelemahan raja-raja Usmani karena wewenangnya sudah jauh menurun. Faktor terpenting lainnya yang membawa kegagalan itu adalah karena ulama-ulama dan tentara Yenissari yang sejak abad ke-17 M menguasai suasana politik dalam Kerajaan Turki Usmani serta menolak usaha pembaharuan itu. Dengan demikian, Kerajaan Turki Usmani  terus saja mendekati jurang kehancurannya, sementara Barat yang menjadi ancaman baginya semakin besar.
Usaha pembaharuan Turki Usmani baru mengalami kemajuan setelah penghalang pembaharuan utama, yaitu tentara Yenissari dibubarkan oleh Sultan Mahmud II (1807-1839 M) pada tahun 1826 M. Struktur kekuasaan kerajaan dirombak, lembaga-lembaga pendidikan modern didirikan, buku-buku barat diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, siswa-siswa berbakat dikirim ke Eropa untuk belajar, dan yang terpenting sekali adalah sekolah-sekolah yang berhubungan dengan kemiliteran didirikan. Bidang militer inilah yang utama dan pertama mendapat perhatian. Akan tetapi, meski banyak mendatangkan kemajuan, hasil gerakan pembaharuan tetap tidak berhasil menghentikan gerak maju Barat ke dunia Islam di abad ke-19 M.[21] Selama abad ke-18 M Barat menyerang ujung garis medan pertempuran Islam di Eropa Timur, wilayah kekuasaan Kerajaan Usmani. Akhir dari serangan-serangan itu adalah ditandatanganinya Perjanjian San Stefano (Maret, 1878 M) dan Perjanjian Berlin ( Juni-Juli 1878 M) antara kerajaan Usmani dengan Rusia. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Turki di Eropa. Sementara kebanyakan daerah berpenduduk mayoritas muslim di Timur Tengah pada abad berikutya mulai diduki bangsa Eropa.
Di samping itu, gerakan pembaharuan malah justru mengancam kekuasaan para sultan yang absolut, karena para peuang Turki melihat bahwa kelemahan Turki terletak pada keabsolutan Sultan itu. Mereka ingin membatasi kekuasaan Sultan dengan membentuk konstitusi sehingga lahir gerakan tanzimat, Usmani Muda, Turki Muda, dan Partai Persatuan dan Kemajuan (Ittihad ve Terekki).
Ketika Perang Dunia I meletus, Turki bergabung dengan Jerman yang kemudian mengalami kekalahan,. Akibatnya, kekuasaan kerajaan Turki Usmani semakin ambruk. Partai Persatuan dan Kemajuan memberontak kepada Sultan dan dapat menghapuskan kekhalifahan Usmani. Kemudian membentuk Turki modern pada tahun 1924 M. Dengan demikian, kesatuan politik dalan negeri Kerajaan Turki Usmani sejak bergeloranya gerakan pembaharuan justru tidak stabil teritama karena para sultan tida mampu mengakomodasi pemikiran yang berkembang di kalangan pemimpin bangsanya. Terkecuali itu, peperangan-peperangan melawan Barat di Eropa Timur terus berkecamuk, memakan dan mengurus tenaga, berakhir dengan kekalahan di pihak Turki.[22]
Di pihak lain, satu demi satu daerah-daerah di Asia dan Afrika yang sebelumnya dikuasai Turki Usmani, melepaskan diri dari Konstantinopel. Dan sekian banyak faktor yang menyebabkan kemunduran Turki Usmani itu yang tak kalah pentingnya adalah timbulnya perasaan nasionalisme pada bangsa-bangsa yang berada di bawah kekuasaanya. Bangsa Armenia dan Yunani yang beragama Kristen berpaling ke Barat, memohon bantuan Barat untuk kemerdekaan tanah airnya. Bangsa Kurdi di pegunungan dan Arab di padang pasir dan lembah-lembah juga bangkit untuk melepaskan diri dari cengkeraman penguasa Turki Usmani.
Demikianlah keadaan dunia Islam pada abad ke-19 M, sementara Eropa sudah jauh meninggalkannya. Eropa dipersenjatai dengan ilmu modern dan penemuan yang membuka rahasia alam. Satu demi satu negeri-negeri Islam yang sedang rapuh itu jatuh ke tangan Barat. Dalam waktu yang tidak lama, kerajaan-kerajaan besar Eropa sudah membagi-bagi seluruh dunia Islam. Inggris merebut India dan Mesir. Rusia menyebrangi Kaukasus dan menguasai Asia Tengah. Perancis menaklukan Afrika Utara, bangsa-bangsa Eropa lainnya mendapat pula bagiannya dari warisan Islam itu.
Ketika terjadi Perang Dunia I (1915) Turki Usmani berada di pihak yang kalah. Sampai tahun 1919 M, Turki diserbu tentara sekutu. Sejak itu kebesaran Turki Usmani benar-benar tenggelam, bahkan tidak lama kemudian. Kekhalifahannya dihapuskan (1924 M). Semua daerah kekuasaannya yang luas baik di Asia maupun Afrika diambil alih oleh negara-negara Eropa yang menang perang. Perang Dunia itu merupakan babak akhir proses penaklukan Barat terhadap negeri-negeri Islam. Sejak itu, seakan-akan tidak ada lagi kerajaan Islam yang betul-betul merdeka.
Penetrasi Barat ke pusat dunia Islam di Timur Tengah pertama-pertama dilakukan oleh dua bangsa Eropa terkemuka, Inggris dan Perancis, yang memang sedang bersaing. Inggris terlebih dulu menanamkan pengaruhnya di India. Perancis merasa perlu memutuskan hubungan komunikasi antara Inggris di Barat dan India di Timur. Oleh karena itu, pintu gerbang ke India, yaitu Mesir, harus berada di bawah kekuasaannya. Untuk maksud tersebut, Mesir dapat ditaklukkan Perancis tahun 1798 M.[23]
Alasan lain Perancis menakalukan Mesir adalah untuk memasarkan hasil-hasil industrinya. Mesir, di samping mudah dicapai dari Perancis juga dapat menjadi sentral aktivitas untuk mendistribusikan barang-barang ke Turki, Syria, Hijaz, begitu pula ke Timur Jauh. Di balik itu, Napoleon Bonaparte sendiri, sebagai Panglima Ekspedisi Perancis itu mempunyai keinginan untuk mengikuti jejak Alexander the Great dari Macedonia, yang jauh di masa lalu pernah menguasai Eropa dan Asia sampai ke India. Akan tetapi, kondisi politik Perancis menghendaki Napoleon meninggalkan Mesir tahun 1799 M. Di Mesir, Jendral Kleber menggantikan kedudukan Napoleon. Dalam suatu pertempuran laut antara Inggris dan Perancis Jendral Kleber kalah. Jendral Kleber dan Ekspedisinya meninggalkan Mesir 31 Agustus 1801 M, dan di Mesir terjadi kekosongan kekuasaan.
Kekosongan itu dimanfaatkan oleh seorang perwira Turki, Muhammad Ali (1769-1849 M) yang didukung oleh rakyat berhasil mengambil kekuasaan dan mendirikan dinastinya. Dimulai oleh Muhammad Ali, Mesir sempat menegakkan kedaulatan dan melakukan beberapa pembaharuan, tetapi pada tahun 1882 M, negeri ini ditaklukan oleh Inggris.
Sementara itu, Rusia menggerogoti wilayah-wilayah muslim di Asia Tengah, terutama setelah ia berhasil mengalahkan Turki Usmani yang berakhir dengan perjanjia San Stefano dan perjanjian Berlin. Satu per satu pula negeri-negeri muslim jatuh ke tangan Rusia.
Faktor utama yang menarik kehadiran kekuatan-kekuatan Eropa ke negeri-negeri muslim adalah ekonomi dan politik. Kemjuan Eropa dalam bidang industri menyebabkan membutuhkan bahan-bahan baku, di samping rempah-rempah. Mereka juga membutuhkan negeri-negeri tempat memasarkan hasil industri merka itu. Untuk menunjang perekonomian tersebut, kekuatan politik diperlukan sekali. Akan tetapi, persoalan agama seringkali terlibat dalam proses politik penjajahan barat atas negeri-negeri Islam ini. Trauma perang Salib agaknya masih membekas pada sebagian orang Barat, terutama Portugis dan Spanyol, karena dua negara ini untuk jangka waktu berabad-abad berada di bawah kekuasaan Islam.[24]





BAB III
KESIMPULAN
A.  Strategi Politik, Pemerintahan, Perkembangan Peradaban, Dan Kehancuran Kerajaan Turki.
1.    Stategi Politik Turki Usmani
Lima faktor yang menyebabkan kesuksesan Dinasti Utsman dalam perluasan wilayah Islam diantaranya :
a.    Kemampuan orang-orang Turki dalam strategi perang terkombinasi dengan cita-cita memperoleh ghonimah (harta rampasan perang).
b.    Sifat dan karakter orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam.
c.    Semangat jihad dan ingin mengembangkan Islam.
d.   Letak Istanbul yang sangat strategis sebagai ibu kota kerajaan juga sangat menunjang kesuksesan perluasan wilayah ke Eropa dan Asia.
e.    Kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya yang kacau memudahkan Dinasti Utsmani mengalahkannya.
2.    Pemerintahan Pada Masa Turki Usmani
Kerajaan Turki Utsmani merupakan kerajaan yang menganut sistem pemerintahan monarki atau turun menurun. Raja-raja dinasti Utsmani bergelar Sultan dan Khalifah sekaligus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi dan Khalifah di bidang Keagamaan.
3.    Perkembangan Peradaban
a.    Bidang pemerintahan dan militer
Para pemimpin kerajaan Utsmani pada masa-masa pertama adalah orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas.
b.    Bidang intelektual dan ilmu pengetahuan
Terjadinya tansformasi pendidikan, dengan mendirikan sekolah-sekolah dasar dan menengah (1861) dan perguran tinggi (1869), dan juga mendirikan fakultas kedokteran dan fakultas hukum.
c.    Bidang Kebudayaan
Dalam bidang kebudayaan Turki Utsmani berkembang seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid. Selain itu banyak dibangunnya infrastruktur baik di kota-kota besar atau kota-kota lainnya. 
d.   Bidang Keagamaan
     Kehidupan keagamaan merupakan bagian dari sistem sosial dan politik Turki Utsmani. Ulama mempunyai kedudukan tinggi dalam kehidupan negara dan masyarakat. Mufti sebagai pejabat tinggi agama, tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum kerajaan tidak dapat berjalan. Pada masa ini, kehidupan tarekat berkembang pesat.
4.    Penyebab Kehancuran Kerajaan Turki Utsmani
Kemunduran Turki Utsmani ditandai dengan beberapa hal sebagai berikut:
Pertama, melemahnya semangat prajurit Ustmani hingga menyebabkan berbagai serangan yang dilancarkan untuk mempertahankan wilayah tidak dapat dipatahkan oleh lawan. Kedua, menyadari akan kelemahan-kelemahan Ustmani, mulailah sebagai wilayah di timur mengadakan pemberontakan untuk melepaskan diri dari kekhalifahan Ustmani.
B.  Kemunduran Dunia Islam Setelah Turki Utsmani
Pada awal kebangkitannya, Eropa menghadapi tantangan yang sangat berat. Di hadapannya masih terdapat kekuatan-kekuatn perang Islam yang sulit dikalahkan, terutama Kerajaan Usmani yang berpusat di Turki. Dua penemuan itu, sungguh tak terterkirakan nilainya, Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan, karena tidak tergantung lagi kepada jalur lama yang dikuasai umat Islam. Perekonomian bangsa-bangsa Eropa pun semakin maju karena derah-daerah baru terbuka baginya. Tak lama setelah itu, mulailah kemajuan Barat melampaui kemajuan Islam yang sejak lama mengalami kemunduran. Dengan demikian, Eropa menjadi penguasa lautan dan bebas melakukan kegiatan ekonomi dan pedagangan dari dan ke seluruh dunia, tanpa mendapat hambatan berarti dari lawan-lawan mereka. Bahkan, satu demi satu negeri Islam jatuh ke bawah kekuasaannya sebagai negeri jajahan.
DAFTAR PUSTAKA
Nuhakim, Moh, Jatuhnya Sebuah Tamadun, 2012, Kementrian Agama Republik Indonesia, Jakarta.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, 2001, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, 2013, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
About Cemoro Sewu, SPI : Strategi Kejayaan Turki Utsmani Dalam Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan, http://duniacemorosewu.wordpress.com/2012/10/05/spi-strategi-kejayaan-turki-utsmani-dalam-bidang-kemiliteran-dan-pemerintahan/ Diakses pada 14 Oktober 2017
Mustangin Buchory, Turki Utsmani (Kritik Terhadap Sistem Pemerintahan Islam), http://mustanginbuchory89.blogspot.co.id/2013/05/turki-utsmani-kritik-terhadap-sistem.html Diakses pada 21 Oktober 2017



[1] Moh Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun (Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2012), 146.
[2] Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun, 146.
[3] About Cemoro Sewu, SPI : Strategi Kejayaan Turki Utsmani Dalam Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan, http://duniacemorosewu.wordpress.com/2012/10/05/spi-strategi-kejayaan-turki-utsmani-dalam-bidang-kemiliteran-dan-pemerintahan/ Diakses pada 14 Oktober 2017.
[4] About Cemoro Sewu, SPI : Strategi Kejayaan Turki Utsmani Dalam Bidang Kemiliteran dan, Pemerintahan, http://duniacemorosewu.wordpress.com/2012/10/05/spi-strategi-kejayaan-turki-utsmani-dalam-bidang-kemiliteran-dan-pemerintahan/ Diakses pada 14 Oktober 2017
[5] Mustangin Buchory, Turki Utsmani (Kritik Terhadap Sistem Pemerintahan Islam), http://mustanginbuchory89.blogspot.co.id/2013/05/turki-utsmani-kritik-terhadap-sistem.html Diakses pada 21 Oktober 2017
[6] Mustangin Buchory, Turki Utsmani (Kritik Terhadap Sistem Pemerintahan Islam), http://mustanginbuchory89.blogspot.co.id/2013/05/turki-utsmani-kritik-terhadap-sistem.html Diakses pada 21 Oktober 2017
[7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II (Jakarta, Rajawali Pers, 2013), 133-134.
[8] Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah..., 134.
[9] Ibid, 135.
[10] About Cemoro Sewu, SPI : Strategi Kejayaan Turki Utsmani Dalam Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan, http://duniacemorosewu.wordpress.com/2012/10/05/spi-strategi-kejayaan-turki-utsmani-dalam-bidang-kemiliteran-dan-pemerintahan/ Diakses pada 14 Oktober 2017
[11] Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah..., 135-136.
[12] Ibid, 136.
[13] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), 136-137.
[14] Yatim, Sejarah Peradaban..., 163-168.
[15] Ibid, 163-168.
[16] Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah..., 167.
[17] Ibid, 168.
[18] Yatim, Sejarah Peradaban..., 174.                      
[19] Yatim, Sejarah Peradaban..., 174-175.
[20] Ibid, 178.
[21] Yatim, Sejarah Peradaban..., 178-179.
[22] Yatim, Sejarah Peradaban..., 180.
[23] Yatim, Sejarah Peradaban..., 180-181.
[24] Yatim, Sejarah Peradaban..., 183-184.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DEFINISI,RUANGLINGKUP,SUMBER,dan FUNGSI AKIDAH ISLAM

A.     Definisi akidah Secara etimologis akidah dari kata aqada ya’qidu-aqdan-aqidatan. Aqdan beraarti simpul, ikatan, perjanjian, dan kokoh (Al-Munjid, 1973: 518). Setelah terbentuk menjadi aqidah berarti menjadi keyakinan.  Menurut para ahli : 1.       Hasan AL-Banna Aqa’id jamak dari aqidah adalah beberapaa perkara yang wajib diyakani kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikit pun dengan keraguan. 2.       Abu bakar jabir Al-Jazairy Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (aksioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fitrah. B.      Ruang Lingkup Pembahasan Akidah 1.       Ilahiyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang yang berhubungan dengan ilah (Tuhan,Allah) seperti wujud Allah, nama dan sifat Allah. 2.       Nubuwat, yaitu...

WUDLU

BAB II PEMBAHASAN 1.       Pengertian W udlu Secara bahasa wudlu yaitu bersih dan indah .Secara syariat wudlu adalah menyucikan sesuatu dengan menggunakan air pada anggota tertentu dengan niat . [1] 2.       Dalil W ajibnya W udlu يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَأَيْدِيَْكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضٰى أَوْ عَلٰى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَأَيْدِيْكُمْ مِّنْهُۗ مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٦       Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak mela...

MAKALAH TENTANG IMAN

BAB II PEMBAHASAN A.     Pengertian Iman dan Konsep Iman Secara etimologi, kata “ al-iman ” berasal dari kata “ aamana-yu’minu-iimaanan, fahuwa mu’minun ” artinya percaya. [1] Percaya adalah suatu pengakuan atau keyakinan seseorang terhadap sesuatu.Para pakar bahasa dan ulama sepakat bahwa makna al-iman adalah at-tashdiq ‘membenarkan’. [2] Menurut Hassan Hanafi (I. 1935 M ) setidaknya ada 4 istilah kunci yang digunakan oleh para teolog muslim dalam membicarakan konsep iman, yaitu : 1.       Ma’rifah bi al-aql, mengetahui dengan akal. 2.       Amal, perbuatan baik atau patuh. 3.       Iqrar, pengakuan secara lisan. 4.       Tashdiq, membenarkan dengan hati, termasuk didalamya ma’rifah bi al-qalb. [3] Konsep iman adalah keseluruhan pemikiran tentang iman. Konsep iman yang dikemukakan oleh aliran-aliran dalam ilmu kalam tidak sama karena dipengaruhi oleh te...